KATA JANUARI
Namaku ta, ini adalah cerita pendek tentang kisah yang kusebut kita. Walau hanya sebentar namun perih yang kurasa selalu saja menyiksa. Disebabkankan kesalahpahaman yang akhirnya mematahkan.
"halo”
"kamu dimana? dengarkan dulu penjelasanku”
"tidak ada yang perlu kudengarkan”
"aku ke rumah sekarang"
Rumah kita yang tak terlalu jauh hanya butuh beberapa menit untuk aku sampai kerumahmu, kau keluar dengan wajah penuh amarah.
"kamu mau apalagi?”
"semua sudah jelas, pergi saja!"
Suara bantingan pintu itu sangat keras
Diah, dia anak dari pamanku, adiknya ibu. Mereka menetap di desa sama seperti aku kecil, sejak nenek meninggalkan ibu memutuskan untuk ikut bersama bapak yang sering keluar kota atas tuntutan pekerjaan. Kami sudah saling mengenal sejak kecil bahkan sudah seperti adik kakak, kau mungkin lupa ini adalah hari libur dan setiap berlibur paman selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi kami. Malam itu ibu menyuruhku menemani diah yang baru saja sampai dari desa, katanya ingin menikmati suasana kota yang ramai, bosen didesa sunyi semacam tidak ada kehidupan.
"ta disini enak ya, gk kayak didesa"
"gk juga, aku sudah terlalu bosan dengan keramaian kota ini, ingin rasanya menetap didesa seperti dulu sewaktu kecil, jika ibu mengizinkan".
"lah kita tukeran aja yuk, didesa sunyi kalau sudah malem begini selain suara dengkuran bapak yang terdengar juga suara kodok kalo lagi hujan, benar-benar memobosankan”.
Begitulah kita, manusia selalu saja ingin bertukar dengan menjadi seperti mereka bahkan ingin memiliki apa yang mereka miliki. Syukuri saja apa yang sudah menjadi ketetapan. Wajar saja kadang hidup diiringi rasa bosan tapi aku yakin jika benar kau syukuri semua akan baik, pada masanya. Itu pesan ibu, beliau tak mengizinkanku untuk menetap disana mau jadi apa kamu kalau tinggal didesa cuma bertani, ditambah lagi kamu tidak memiliki kepandaian perihal bertani, tak akan bisa kelak mencukupi kebutuhan keluargamu. Jika kamu sudah berkeluarga.
"siapa wanita itu ta?”
"kenapa dia marah-marah?”
Seharusnya malam itu kau tak lansung pergi, setidaknya dengarkan sepatah kata dariku agar kesalah fahaman ini tak berujung penyudahan. Berakhirnya kisah ini tak membaikkan keduanya.
"nanti ku jelaskan di rumah, yuk sekarang kita pulang"
Keesokan harinya aku ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi malam itu aku menyambangi rumahmu bersama diah
"kita mau kemana ta?”
"temenin aku kerumah wanita yang kemarin dicafe marah-marah".
"dia pacarmu?”
"iya, dia salah faham melihat kita berduaan".
"kau tak bilang dulu ingin menemani aku jalan-jalan"?
"kemarin aku tak ada pulsa ingin mengabarinya. Nanti sesampainya disana bantu aku jelasin siapa kamu dan apa yang sebenarnya terjadi"
"ta, kita tungguin sampai kapan? sudah hampir tiga jam kita disini sekarang sudah jam10 nanti ibu marah, tante juga pasti marah, pesannya jangan pulang malem".
Tidak ada siapa-siapa dirumahmu sempat kutanyakan pada tetanggamu namanya pak uwi orang kepercayaan ayahmu jika mereka sedang pergi ayahmu akan meminta tolong pada pak uwi untuk menjaga rumah, pak uwi bilang ayah dan ibumu sedang berkunjung ketempat nenek di luar kota beliau juga sempat melihatmu sedang mengobrol dengan seorang lelaki didepan rumah, beliau tidak kenal pak uwi juga bilang beliau sempat melihatmu pergi bersama lelaki itu.
Diperjalanan pulang aku melihatmu disebuah cafe yang biasa kita kunjungi. Hal yang sering kita bahas menyebabkan pertikaian itu kini benar dimataku, kau bersama mantan kekasihmu. Sial, mengapa mesti terlihat.
"ta, lelaki itu siapa? bukannya itu wanita yang kemarin malam? Pacarmu"
"itu mantan pacarnya, namanya ari teman sekelasnya waktu sekolah”
”ta, buka pintunya ibu mau bicara kali ini dengarkan ibu”
Sudahlah jangan terus-terusan begini kamu lelaki jangan karena wanita yang terlalu kau cinta hidupmu kacau, setiap yang patah ada sudahnya, jangan berlebihan apalagi untuk urusan hati dengan manusia yang kebanyakan mengecewakan.
“bu”, kali ini aku benar-benar merasa kalah pada kenyataan, kadang aku merasa semesta tidak adil, mengapa ia menjatuhkan hatiku kepada orang yang tak benar mencintaiku, apa yang kudapatkan tak sepadan dengan apa yang sudah berikan.
“begitulah kehidupan sayang” tak baik berprasangka buruk, semesta itu baik, pada waktunya. Kau tak dicuranginya hanya saja semesta ingin melihat bagaimana caramu menghadapi masalahmu. Pahamilah;mereka yang disinggahkan hanya untuk memberi kita pelajaran bahwasanya benar cinta akan berujung pada setiap kita yang terpatahkan.
Semua yang dimulai juga akan berakhir, lalu mengapa kau terlalu takut akan akhir? Jangan hanya pandai memulai, siapkan juga akan akhir meski semua kita tak pernah menginginkannya. Tapi inilah kenyataan yang harus kau terima disetiap perjalanan akan selalu kembali kejalan pulang.
MEDAN 00:00, 05-januari-2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar