Rabu, 06 Februari 2019

KATA FEBRUARI


KATA FEBRUARI

Ini saya bagikan karena benar-benar tersentuh oleh apa yang disampaikan mereka, salah satu alasan saya belajar menulis dan mengabadikan. Sedikit kisah tentang pesan singkat bapak juga tentang seorang bapak pecinta kopi juga sedikit cerita tentang seorang doktor yang memulung. Tentang masa muda mereka juga tentang bagaimana mereka memilih jalan hidupnya.

Ditempat ini disebuah tongkrongan sederhana, tempat saya meluapkan kekesalan pada semesta, lewat pemikiran saya tumpahkan melalui tulisan, hampir setiap malam  setelah siang terlewat dengan lelahnya pemikiran yang selalu saja membuntukan.

Mengapa untuk hidup yang kau rasa salah;harus meluapkan kesal pada semesta seolah ia penyebabnya, serba salah untuk hidup yang kau rasa salah, akan selalu salah jika pikirmu tak berubah, tidak salah, hanya saja kau terlalu lemah.

00:00 sudah seharusnya cafe ini tutup, bapak pemilik cafe tiba-tiba menghampiri, saya yang terlihat asik menulis dengan laptop juga selalu menyendiri disudut cafe mungkin dengan begitu akan lebih fokus pada apa yang ingin saya luapkan, juga agar tak diganggu oleh teman-teman yang selalu mengatakan saya adalah pujangga, dengan begitu juga saya akan lebih bebas menyampaikan apapun perihal kalut lewat tulisan.

Pembicaraan kami dimulai diawali sibapak bercerita perihal masa lalunya, beliau adalah pemilik cafe umurnya kira-kira 50 tahun kurang lebih, maklum saya tidak pernah menanyakannya. Dulunya beliau adalah anak yang rajin dan patuh pada orang tua, ayahnya adalah seorang profesor.

Kurang lebih begini, saya mengambil pendidikan s1 di UNIVERSITAS SUMATERA UTARA di kota MEDAN dengan lulusan terbaik, bangga dong. Saya kira akan bisa mendapatkan banyak uang bermodalkan ijazah juga wawasan, hanya uang yang ada dipikiran saya saat itu. Sempat saya bekerja disuatu perusahaan milik teman ayah saya dan penghasilannya memang berlebih untuk kecukupan anak muda seperti saya, namun nyatanya saya tak pernah puas, benar-benar tak terasa nikmat untuk hidup saya sendiri. Setelah itu saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan s2 di UNIVERSITAS INDONESIA ayah saya adalah seorang profesor tentu beliau ingin anaknya seperti dia. Masa muda saya sudah terlalu banyak dihadapkan dengan pilihan, dan mengapa akhirnya saya memilih untuk bermain dengan kopi-kopi ini, mengapa tak saya pakai ijazah dan ilmu saya dibidangnya bahkan menjadi bos disuatu perusahaan ternama, menjual nama ayah saya. Selesainya pendidikan s2 saya terjun kedunia politik namun benar saya tak pernah merasakan ketenangan, nikmat, juga kecintaan pada apa yang saya lakukan, sempat terpikir ini kehidupan saya mengapa tak saya nikmati dengan apa yang saya cintai saja. Sejak saat itu saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut dan dengan begini saya lebih bahagia dan tak ada yang perlu disesalkan. Keputusan boleh saja salah sebagai pembelaran, juga tak ada yang perlu ditakutkan akan materi jalani saja bila itu menjadikanmu benar dirimu apa adanya. Kenikmatan hidup sebenarnya akan kau temukan bila apa yang menjadi kecintaan tanpa paksaan kau lakukan.

Hidupmu adalah pilihan, dengarkan mereka jika itu baik untukmu, acuhkan mereka jika tak baik untukmu, jangan ragu, bila semua dijalani dengan baik maka baik pula hasilnya. Semesta tidak akan ingkar, apa yang kau dapatkan akan sepadan dengan lakumu, jika kau mendapat lebih itu adalah bonus sebab semesta menyukaimu.

Pernah mendengar seorang doktor lulusan rusia yang menjadi pemulung? Jika tidak saya akan sedikit memberitahu. Saya pernah mendengar itu diacara talkshow dan beliau sebagai bintang tamunya. Saya juga pernah membaca salah satu buku yang ditulis oleh beliau. Namanya soesilo ananta toer adik dari pramoedya ananta toer. Siapa sastrawan yang tidak kenal dengan gelut mereka didunia sastra, keduanya adalah sastrawan luar biasa, usianya kurang lebih 81 tahun dan sampai saat ini beliau masih memilih menjadi pemulung ketimbang menikmati masa tuanya dengan bersantai. Beliau berkata;saya adalah warga negara belanda audiens menatap kebingungan, iya saya adalah warga negara belanda saya lahir tahun 37 dan belanda mengakui indonesia tahun 49 semua yang lahir sebelum tahun 49 adalah warga negara belanda, dibawah kepemerintahan belanda. Sudah banyak tawaran dari pihak belanda tapi saya menolak dan lebih memilih pulang ke indonesia karena saya patuh pada perjanjian ketika saya pergi keluar negeri. Itu semua saya lakukan karena kecintaan pada negara, saya ini terlalu patuh.
Demi hakikat kenikmatan hidup beliau telah memilih hidupnya. Miskin orang bilang, tidak beliau bilang;kamu yang miskin, belajarlah untuk menikmati hidup dengan kecintaanmu pada hidupmu sendiri. Kenalilah diriku karena memulung adalah kenikmatan abadi buatku. Tak ada yang perlu disesalkan, kau tahu apa yang harus kau sesalkan? jika kau hidup dengan penuh paksaan dan sedikit pengalaman, ingin menjadi seperti mereka namun nyatanya dirimu adalah dirimu, hidpumu tak akan mejadi seperti mereka jika kau tak merubahnya, jika hanya dengan pemikiran tanpa perbuatan semua orang akan sukses dan kaya raya.

Dan ini sedikit tentang nasihat bapak

Bapak pernah berpesan didunia yang semakin ingar ini kau harus berani. Bapak adalah pria yang paling sedikit bicara sejak saya mengenal nakal. Jika ia marah, tak sepatah katapun akan keluar, kata ibu ia kesal pada dirinya sendiri;ia telah gagal, ia juga sangat menyesal telah melayangkan tangan. Itu kata beliau kepada ibu. Hingga saya besar, saya rasa kali ini ada yang lebih parah dari marah, ia kecewa. Untuk yang kedua kali ia mengingatkan;hidup harus berani, kamu lelaki, jangan takut pada apapun yang menghalangimu. Jika kau punya mimpi, kejarlah. Tapi mohon jangan tinggalkan apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu. Aku tahu, banyak mereka jadi penghalang namun jangan hiraukan, balas dengan pembuktikan bahwa kau pantas.

Disetiap kita hidup tentu ada kalut yang teramat parah, kadang kau rasa tak sanggup menghadapinya, tentang apapun, karena kita tak sama, berbeda-beda. Jangan mudah menyerah, benar ini hanya permainan kata, namun percayalah terdapat kesungguhan didalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar