KATA
FEBRUARI
Ini saya bagikan karena benar-benar tersentuh oleh apa yang disampaikan
mereka, salah satu alasan saya belajar menulis dan mengabadikan. Sedikit kisah
tentang pesan singkat bapak juga tentang seorang bapak pecinta kopi juga
sedikit cerita tentang seorang doktor yang memulung. Tentang masa muda mereka
juga tentang bagaimana mereka memilih jalan hidupnya.
Ditempat ini disebuah tongkrongan sederhana, tempat saya meluapkan kekesalan
pada semesta, lewat pemikiran saya tumpahkan melalui tulisan, hampir setiap
malam setelah siang terlewat dengan
lelahnya pemikiran yang selalu saja membuntukan.
Mengapa untuk hidup yang kau rasa salah;harus meluapkan kesal
pada semesta seolah ia penyebabnya, serba salah untuk hidup yang kau rasa salah,
akan selalu salah jika pikirmu tak berubah, tidak salah, hanya saja kau terlalu
lemah.
00:00 sudah seharusnya cafe ini tutup, bapak pemilik cafe tiba-tiba menghampiri,
saya yang terlihat asik menulis dengan laptop juga selalu menyendiri disudut
cafe mungkin dengan begitu akan lebih fokus pada apa yang ingin saya luapkan, juga
agar tak diganggu oleh teman-teman yang selalu mengatakan saya adalah pujangga,
dengan begitu juga saya akan lebih bebas menyampaikan apapun perihal kalut lewat
tulisan.
Pembicaraan kami dimulai diawali sibapak bercerita perihal masa lalunya,
beliau adalah pemilik cafe umurnya kira-kira 50 tahun kurang lebih, maklum saya
tidak pernah menanyakannya. Dulunya beliau adalah anak yang rajin dan patuh
pada orang tua, ayahnya adalah seorang profesor.
Kurang lebih begini, saya mengambil pendidikan s1 di UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA di kota MEDAN dengan lulusan terbaik, bangga dong. Saya kira akan bisa
mendapatkan banyak uang bermodalkan ijazah juga wawasan, hanya uang yang ada
dipikiran saya saat itu. Sempat saya bekerja disuatu perusahaan milik teman
ayah saya dan penghasilannya memang berlebih untuk kecukupan anak muda seperti
saya, namun nyatanya saya tak pernah puas, benar-benar tak terasa nikmat untuk
hidup saya sendiri. Setelah itu saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan s2
di UNIVERSITAS INDONESIA ayah saya adalah seorang profesor tentu beliau ingin
anaknya seperti dia. Masa muda saya sudah terlalu banyak dihadapkan dengan
pilihan, dan mengapa akhirnya saya memilih untuk bermain dengan kopi-kopi ini, mengapa
tak saya pakai ijazah dan ilmu saya dibidangnya bahkan menjadi bos disuatu
perusahaan ternama, menjual nama ayah saya. Selesainya pendidikan s2 saya
terjun kedunia politik namun benar saya tak pernah merasakan ketenangan,
nikmat, juga kecintaan pada apa yang saya lakukan, sempat terpikir ini
kehidupan saya mengapa tak saya nikmati dengan apa yang saya cintai saja. Sejak
saat itu saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut dan dengan begini
saya lebih bahagia dan tak ada yang perlu disesalkan. Keputusan boleh saja
salah sebagai pembelaran, juga tak ada yang perlu ditakutkan akan materi jalani
saja bila itu menjadikanmu benar dirimu apa adanya. Kenikmatan hidup sebenarnya
akan kau temukan bila apa yang menjadi kecintaan tanpa paksaan kau lakukan.
Hidupmu adalah pilihan, dengarkan mereka jika itu baik
untukmu, acuhkan mereka jika tak baik untukmu, jangan ragu, bila semua dijalani
dengan baik maka baik pula hasilnya. Semesta tidak akan ingkar, apa yang kau
dapatkan akan sepadan dengan lakumu, jika kau mendapat lebih itu adalah bonus
sebab semesta menyukaimu.
Pernah mendengar seorang doktor lulusan rusia yang menjadi pemulung? Jika
tidak saya akan sedikit memberitahu. Saya pernah mendengar itu diacara talkshow
dan beliau sebagai bintang tamunya. Saya juga pernah membaca salah satu buku
yang ditulis oleh beliau. Namanya soesilo ananta toer adik dari pramoedya ananta
toer. Siapa sastrawan yang tidak kenal dengan gelut mereka didunia sastra, keduanya
adalah sastrawan luar biasa, usianya kurang lebih 81 tahun dan sampai saat ini
beliau masih memilih menjadi pemulung ketimbang menikmati masa tuanya dengan
bersantai. Beliau berkata;saya adalah warga negara belanda audiens menatap
kebingungan, iya saya adalah warga negara belanda saya lahir tahun 37 dan
belanda mengakui indonesia tahun 49 semua yang lahir sebelum tahun 49 adalah
warga negara belanda, dibawah kepemerintahan belanda. Sudah banyak tawaran dari
pihak belanda tapi saya menolak dan lebih memilih pulang ke indonesia karena
saya patuh pada perjanjian ketika saya pergi keluar negeri. Itu semua saya
lakukan karena kecintaan pada negara, saya ini terlalu patuh.
Demi hakikat kenikmatan hidup beliau telah
memilih hidupnya. Miskin orang bilang, tidak beliau bilang;kamu yang miskin, belajarlah
untuk menikmati hidup dengan kecintaanmu pada hidupmu sendiri. Kenalilah diriku
karena memulung adalah kenikmatan abadi buatku. Tak ada yang perlu disesalkan,
kau tahu apa yang harus kau sesalkan? jika kau hidup dengan penuh paksaan dan sedikit
pengalaman, ingin menjadi seperti mereka namun nyatanya dirimu adalah dirimu,
hidpumu tak akan mejadi seperti mereka jika kau tak merubahnya, jika hanya
dengan pemikiran tanpa perbuatan semua orang akan sukses dan kaya raya.
Dan ini sedikit tentang nasihat
bapak
Bapak pernah berpesan didunia yang semakin ingar ini kau harus berani. Bapak
adalah pria yang paling sedikit bicara sejak saya mengenal nakal. Jika ia
marah, tak sepatah katapun akan keluar, kata ibu ia kesal pada dirinya sendiri;ia
telah gagal, ia juga sangat menyesal telah melayangkan tangan. Itu kata beliau
kepada ibu. Hingga saya besar, saya rasa kali ini ada yang lebih parah dari
marah, ia kecewa. Untuk yang kedua kali ia mengingatkan;hidup harus berani, kamu lelaki, jangan takut pada apapun yang
menghalangimu. Jika kau punya mimpi, kejarlah. Tapi mohon jangan tinggalkan apa
yang sudah menjadi tanggung jawabmu. Aku tahu, banyak mereka jadi penghalang namun
jangan hiraukan, balas dengan pembuktikan bahwa kau pantas.
Disetiap kita hidup tentu ada kalut yang teramat parah,
kadang kau rasa tak sanggup menghadapinya, tentang apapun, karena kita tak
sama, berbeda-beda. Jangan mudah menyerah, benar ini hanya permainan kata,
namun percayalah terdapat kesungguhan didalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar