Amira diah syahputri
”sayang bagaimana persiapan untuk penampilanmu besok?”
“sudah nek, semua sudah kusiapkan,
doakan semoga aku gk malu-maluin ya”
“nenek yakin padamu, ibumu juga dulu sepertimu pandai bercerita juga
berpuisi sama sepertimu, jadi untuk hal semacam ini nenek sangat yakin padamu”
Hari ini adalah hari guru dimana pihak sekolah menengah atas itu selalu mengadakan
perlombaan pembacaan cerpen juga puisi setiap tahunnya, aku termasuk salah satu
siswi yang ditunjuk oleh ibu wali kelas untuk mewakili kelas kami.
“bangun sayang, sudah waktunya kesekolah hari ini nenek akan melihatmu sampai
akhir penampilanmu, sana lekas mandi sarapanmu sudah nenek siapin”
Sesampainya disekolah aku dan nenek mendapat tempat duduk yang berjajaran
dengan guru-guru juga petinggi sekolah, kebetulan setiap peserta yang tampil
akan mendapat tempat duduk didepan bersama orang tuanya yang mendapat undangan,
dan setelah beberapa dari mereka tampil tidak lama kemudian namaku dipanggil
untuk maju kedepan.
”tuh kamu sudah dipanggil, semangat ya sayang”
“sekarang giliranku, doakan aku ya nek”
Nenek tersenyum memberikan isyarat sepenuhnya bahwa aku bisa, dan saat itu
adalah hari dimana pertama kali aku berada ditengah-tengah keramaian mereka yang
memperhatikanku untuk bercerita;
Beberapa tahun lalu bayi mungil yang tahunya hanya menangis itu sudah
ditimpa musibah yang sangat berat ia tak mengenal yang namanya sosok seorang
ibu juga ayah, suaranya, belaian lembut tangannya, kecupan manjanya, juga
pelukan hangat yang mampu menenangkan setiap gelisahnya.
Sewaktu usianya semakin bertambah menduduki bangku sekolah dasar disitulah
ia baru mengenal sosok seorang ibu dan ayah dari teman-temannya yang sering bercerita
membanggakan sosok itu, mereka bilang ibu dan ayahnya adalah pahlawan, setiap
harinya mereka selalu ditemani kemanapun perginya bahkan ketika kesekolah
mereka selalu diantar dan dijemput. Gadis kecil itu tak bisa bercerita perihal
sosok itu, ketika ditanya oleh teman-temannya ia hanya terdiam dan selalu saja
menangis sepulangnya kerumah. Gadis kecil itu juga pernah melihat seorang bayi
yang sedang menangis tak tahu apa sebabnya sontak terdiam ketika berada
dipelukan ibunya. Sungguh luar biasa, berbeda dengan gadis ini ia tak pernah
merasakan itu.
Super hero yang sering dikatakan temannya telah tiada semesta mengambilnya sejak
lama bahkan sejak ia belum dapat berbicara dan mengingat rupa, gadis kecil itu diasuh
oleh neneknya yang semakin menua dan terpaksa harus banting tulang demi
kecupukan hidup mereka setelah ditinggal anak satu-satunya, mereka hidup
sederhana dengan kecukupan seadanya. Hingga suatu ketika gadis kecil itu
bertanya pada neneknya.
“nek, apakah aku tak punya ibu? Ibu kemana? Apakah ibu tak merindukanku?
mengapa ibu tak menemui aku? teman-teman selalu saja menanyakan mengapa ibu tak
pernah mengantarkanku kesekolah” neneknya menjawab, tuhan telah membawa ibu dan
ayahnya karena tuhan sayang mereka, pembicaraan itu berlanjut untuk seorang
gadis kecil yang tak tahu apa-apa tentang arti kehilangan juga mereka yang
pergi tak pernah kembali, hanya saja rasa ingin tahunya yang tinggi dengan
beberapa pertanyaan yang sebenarnya ia tak paham.
“tuhan membawa mereka kemana? apakah tuhan akan mengembalikan ibu dan ayah?”
“sayang, tuhan membawa ibu dan ayahmu kesurga tempat yang paling
diidam-idamkan dari semua manusia yang hidup”
“surga itu apa?”
“surga itu sangat indah tempatnya, disana mereka begitu dekat dengan tuhan
dan setiap manusia baik kelak tuhan memanaggilnya akan ditempatkan disana”
“kalau begitu aku kesana saja, aku ingin menjumpai ibu dan ayah”
“surga tak ada didunia ini sayang, tak ada dikehidupan kita saat ini”
“jadi ibu dan ayah tak akan pernah menemuiku? Nenek bilang tuhan baik, mengapa
tuhan tak baik padaku? Akukan masih kecil, mengapa tuhan mengambil ibu dan
ayah?
Begitu polosnya gadis kecil itu, disaat temannya membanggakan sosok ibu dan
ayah mereka ia hanya bisa terdiam dan selalu saja menangis, kesedihan yang tak
harus dirasakan untuk anak seusianya.
MERINDU YANG TELAH DI SURGA
Ibu...
Ayah...
Apakah kalian tidak merindukanku?
Jumpai aku sesekali walau hanya dalam mimpi
Agar rinduku sedikit terobati
Aku ingin bercerita perihal dunia yang kejam tanpa
hadirmu
Kau tahu...
Senyum tulus
Kasih sayang murni
Perjuangan tanpa pamrih seakan tabu didunia ini
Masih banyak lagi yang ingin kuceritakan perihal dunia
yang kejam ini tanpa kalian, aku selalu berdoa kepada tuhan agar rindu ini
terbalaskan
Itulah masa kecilnya, seorang gadis kecil yang hanya mempunyai nenek dan setelah
ia beranjak dewasa ia telah mengenal arti kehilangan juga bagaimana mereka yang
pergi tak pernah kembali, sejak saat itu disetiap malamnya selalu saja ia
membujuk tuhan agar inginnya dikabulkan.
Tuhan, perkenalkan namaku amira diah syahputri kini aku sudah besar dan
sejak aku kecil aku tak pernah merasakan lembutnya tangan seorang ibu dengan
penuh kasih sayang juga tak pernah merasakan kasarnya tangan seorang ayah yang
telah banting tulang, aku mohon kali ini izinkan aku bertemu dengan mereka banyak
yang ingin kuceritakan perihal duniamu yang kejam tanpa mereka. Tuhan, kini aku
sudah mengerti arti kesedihan sebab kehilangan aku juga sudah mengerti arti
tangisan sebab mereka yang pergi tak kembali, aku mohon pertemukan kami walau
hanya dalam mimpi.
Pertunjukan diakhiri dengan suara tepuk tangan sebagai penghargaan yang
baru pernah kudapatkan sebuah kebanggaan tersendiri, dari atas pentas aku
melihat nenek dengan mata berbinar-binar ia sedang berusaha tegar menghapus air
mata yang terus saja memaksa ingin keluar, begitulah nenek ia tak pernah ingin
menunjukkan tangis padaku beliau berkata aku tak ingin memberi contoh yang
tidak baik padamu, kamu jangan pernah menangis sebab menangis itu hanya untuk
wanita yang lemah, kamu harus kuat meski semesta kadang tak adil. Sepulangnya
dari pertunjukan sekolah aku telah mempersiapkan makan malam untuk nenek
kebetulan aku yang sedang belajar memasak sudah sedikit pandai untuk porsinya
aku dan nenek.
“wah mira masakanmu sangat enak sama persis seperti ibumu, dia juga pandai
memasak dan ahli disegala hal” entah kenapa belakangan ini nenek selalu saja
mengingatkanku pada ibu, mungkin ia sedang rindu pada anak sematang wayangnya
itu. Seketika tangis nenek pecah air mata yang ia tahankan sejak tadi kini tak
dapat ia tahankan benar ia sedang merindukan anak semata wayangnya itu, aku
yang terlalu lemah dengan paksaan air mata menangis menjadi-jadi sebab bayi
mungilnya yang sampai kini sudah beranjak dewasa tak pernah tahu bagaimana
rupanya.
Lihatlah dirimu sayang kau begitu cantik, bayi mungil beberapa tahun lalu
kini melebihi aku tingginya kau masih ingat, tangan yang dulu sempat kugenggam kini
balik menggenggam tanganku. Jangan cengeng ya, ibu tak suka kau menjatuhkan air
mata kau harus kuat dan berani kau bukan lagi anak kecil yang selalu tertawa
dengan hal kecil kau juga sudah terlatih menghadapi dunia sendiri, kini kau
sudah besar seharusnya kau lebih dewasa menghadapi masalah dunia.
“ibu..... kenapa ibu tega meninggalkanku? Apa ibu tak sayang denganku?”
“kemarilah, banyak yang ingin ibu ceritakan perihal keterpaksaan ibu dan
ayah meninggalkanmu” beberapa tahun lalu aku dan ayahmu pergi memenuhi undangan
teman lama ayahmu, waktu itu usiamu masih dua bulan tak memungkinkan untuk ikut
bersama kami kau ibu titipkan kepada nenekmu dia begitu menyayangimu bahkan
melebihi dia menyayangiku. Ditengah perjalanan yang menempuh waktu satu jam
lamanya tiba-tiba saja hujan turun sangat deras mungkin semesta sedang marah,
kesal pada penumpangnya yang tak tahu berterimakasih hanya pandainya saja
meminta. Ibu dan ayah tak melihat ada truk yang terpaksa berhenti karena rusak
tak terlalu menepi juga tak terlalu menengah, seketika terjadilah hal yang tak
diinginkan kami terpental pandanganku gelap, seketika aku tersadar diruangan
serba putih juga dengan orang-orang yang mengenakan seragam putih mereka terlihat
kebingungan dan sangat panik dengan keadaanku yang semakin tak membaik
suasananya sangat riuh, aku sempat mendengar seseorang yang berteriak memanggil
namaku dengan jeritan yang tidak biasa, aku mengenal suara itu dia adalah
nenekmu, namun ada yang kusayangkan aku tak bisa meliihatmu disaat-saat
terakhir itu, begitu berat beban yang kau tanggung gadis mungilku harus
menanggung hal yang tak biasa yang kebanyakan mereka tak mendapatkannya.
Waktu itu aku meminta kepada tuhan jangan ambil suamiku agar kamu tak
benar-benar merasakan hidup tanpa orang tua yang sangat kamu butuhkan, tak
berselang lama aku juga mendengar suara yang sangat kuhafal itu berteriak untuk
yang kedua kalinya dia menangis histeris dia memanggil nama ayahmu, dan aku
juga mendengar percakapan seseorang yang mengenakan pakaian serba putih itu
bersama ibuku;maaf bu, kami sudah memberikan yang terbaik namun tuhan berkata
lain, itu adalah ayahmu, ternyata doaku tak dikabulkan oleh tuhan. Ayahmu telah
diambil tuhan sesaat sebelum aku. Tak ada yang bisa kami perbuat semuanya
keinginan tuhan entah apa maksud dari semua yang tak kuinginkan ini, namun ku
percaya bahwa apa yang telah ditetapkan-NYA akan baik akhirnya. Suatu saat jika
kau rindu ibu, berdoalah pada tuhan. kau tahu aku lebih dekat dengan-NYA aku
akan membujuk-NYA agar doamu segera diiyakan, pintalah semoga kita dipertemukan
kembali.
“bu, aku masih rindu jangan pergi dulu masih banyak yang ingin kuceritkan
perihal dunia ini tanpamu, kau tahu sejak aku kecil tangan penuh kelembutan ini
tak pernah kurasakan, bahkan untuk melihat rupamu seperti apa aku tak dapat
kesempatan, jangan pergi lagi tetaplah bersamaku”
“jangan bersedih sayang ini hanya perihal waktu, takdir semesta tak
siapapun bisa merubahnya kita tidak dialam yang sama namun tak sedikitpun
merubah hati seorang ibu, kau tetaplah kecintaanku. Selamat tinggal sayang suatu
saat jika kita dipertemukan kembali akan kuceritakan perihal lelaki tangguh
yang tak kau tahu bagaimana rupanya”
“amira, ayo bangun sudah saatnya pergi kesekolah”
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA
09-FEBRUARI-2019