Senin, 11 Februari 2019

AMIRA DIAH SYAHPUTRI


Amira diah syahputri
”sayang bagaimana persiapan untuk penampilanmu besok?”
“sudah nek, semua sudah  kusiapkan, doakan semoga aku gk malu-maluin ya”
“nenek yakin padamu, ibumu juga dulu sepertimu pandai bercerita juga berpuisi sama sepertimu, jadi untuk hal semacam ini nenek sangat yakin padamu”

Hari ini adalah hari guru dimana pihak sekolah menengah atas itu selalu mengadakan perlombaan pembacaan cerpen juga puisi setiap tahunnya, aku termasuk salah satu siswi yang ditunjuk oleh ibu wali kelas untuk mewakili kelas kami.

“bangun sayang, sudah waktunya kesekolah hari ini nenek akan melihatmu sampai akhir penampilanmu, sana lekas mandi sarapanmu sudah nenek siapin”
Sesampainya disekolah aku dan nenek mendapat tempat duduk yang berjajaran dengan guru-guru juga petinggi sekolah, kebetulan setiap peserta yang tampil akan mendapat tempat duduk didepan bersama orang tuanya yang mendapat undangan, dan setelah beberapa dari mereka tampil tidak lama kemudian namaku dipanggil untuk maju kedepan.

”tuh kamu sudah dipanggil, semangat ya sayang”
“sekarang giliranku, doakan aku ya nek”
Nenek tersenyum memberikan isyarat sepenuhnya bahwa aku bisa, dan saat itu adalah hari dimana pertama kali aku berada ditengah-tengah keramaian mereka yang memperhatikanku untuk bercerita;

Beberapa tahun lalu bayi mungil yang tahunya hanya menangis itu sudah ditimpa musibah yang sangat berat ia tak mengenal yang namanya sosok seorang ibu juga ayah, suaranya, belaian lembut tangannya, kecupan manjanya, juga pelukan hangat yang mampu menenangkan setiap gelisahnya.
Sewaktu usianya semakin bertambah menduduki bangku sekolah dasar disitulah ia baru mengenal sosok seorang ibu dan ayah dari teman-temannya yang sering bercerita membanggakan sosok itu, mereka bilang ibu dan ayahnya adalah pahlawan, setiap harinya mereka selalu ditemani kemanapun perginya bahkan ketika kesekolah mereka selalu diantar dan dijemput. Gadis kecil itu tak bisa bercerita perihal sosok itu, ketika ditanya oleh teman-temannya ia hanya terdiam dan selalu saja menangis sepulangnya kerumah. Gadis kecil itu juga pernah melihat seorang bayi yang sedang menangis tak tahu apa sebabnya sontak terdiam ketika berada dipelukan ibunya. Sungguh luar biasa, berbeda dengan gadis ini ia tak pernah merasakan itu.

Super hero yang sering dikatakan temannya telah tiada semesta mengambilnya sejak lama bahkan sejak ia belum dapat berbicara dan mengingat rupa, gadis kecil itu diasuh oleh neneknya yang semakin menua dan terpaksa harus banting tulang demi kecupukan hidup mereka setelah ditinggal anak satu-satunya, mereka hidup sederhana dengan kecukupan seadanya. Hingga suatu ketika gadis kecil itu bertanya pada neneknya.

“nek, apakah aku tak punya ibu? Ibu kemana? Apakah ibu tak merindukanku? mengapa ibu tak menemui aku? teman-teman selalu saja menanyakan mengapa ibu tak pernah mengantarkanku kesekolah” neneknya menjawab, tuhan telah membawa ibu dan ayahnya karena tuhan sayang mereka, pembicaraan itu berlanjut untuk seorang gadis kecil yang tak tahu apa-apa tentang arti kehilangan juga mereka yang pergi tak pernah kembali, hanya saja rasa ingin tahunya yang tinggi dengan beberapa pertanyaan yang sebenarnya ia tak paham.

“tuhan membawa mereka kemana? apakah tuhan akan mengembalikan ibu dan ayah?”
“sayang, tuhan membawa ibu dan ayahmu kesurga tempat yang paling diidam-idamkan dari semua manusia yang hidup”
“surga itu apa?”
“surga itu sangat indah tempatnya, disana mereka begitu dekat dengan tuhan dan setiap manusia baik kelak tuhan memanaggilnya akan ditempatkan disana”
“kalau begitu aku kesana saja, aku ingin menjumpai ibu dan ayah”
“surga tak ada didunia ini sayang, tak ada dikehidupan kita saat ini”
“jadi ibu dan ayah tak akan pernah menemuiku? Nenek bilang tuhan baik, mengapa tuhan tak baik padaku? Akukan masih kecil, mengapa tuhan mengambil ibu dan ayah?
Begitu polosnya gadis kecil itu, disaat temannya membanggakan sosok ibu dan ayah mereka ia hanya bisa terdiam dan selalu saja menangis, kesedihan yang tak harus dirasakan untuk anak seusianya.

MERINDU YANG TELAH DI SURGA
Ibu...
Ayah...
Apakah kalian tidak merindukanku?
Jumpai aku sesekali walau hanya dalam mimpi
Agar rinduku sedikit terobati
Aku ingin bercerita perihal dunia yang kejam tanpa hadirmu
Kau tahu...
Senyum tulus
Kasih sayang murni
Perjuangan tanpa pamrih seakan tabu didunia ini
Masih banyak lagi yang ingin kuceritakan perihal dunia yang kejam ini tanpa kalian, aku selalu berdoa kepada tuhan agar rindu ini terbalaskan

Itulah masa kecilnya, seorang gadis kecil yang hanya mempunyai nenek dan setelah ia beranjak dewasa ia telah mengenal arti kehilangan juga bagaimana mereka yang pergi tak pernah kembali, sejak saat itu disetiap malamnya selalu saja ia membujuk tuhan agar inginnya dikabulkan.
Tuhan, perkenalkan namaku amira diah syahputri kini aku sudah besar dan sejak aku kecil aku tak pernah merasakan lembutnya tangan seorang ibu dengan penuh kasih sayang juga tak pernah merasakan kasarnya tangan seorang ayah yang telah banting tulang, aku mohon kali ini izinkan aku bertemu dengan mereka banyak yang ingin kuceritakan perihal duniamu yang kejam tanpa mereka. Tuhan, kini aku sudah mengerti arti kesedihan sebab kehilangan aku juga sudah mengerti arti tangisan sebab mereka yang pergi tak kembali, aku mohon pertemukan kami walau hanya dalam mimpi.

Pertunjukan diakhiri dengan suara tepuk tangan sebagai penghargaan yang baru pernah kudapatkan sebuah kebanggaan tersendiri, dari atas pentas aku melihat nenek dengan mata berbinar-binar ia sedang berusaha tegar menghapus air mata yang terus saja memaksa ingin keluar, begitulah nenek ia tak pernah ingin menunjukkan tangis padaku beliau berkata aku tak ingin memberi contoh yang tidak baik padamu, kamu jangan pernah menangis sebab menangis itu hanya untuk wanita yang lemah, kamu harus kuat meski semesta kadang tak adil. Sepulangnya dari pertunjukan sekolah aku telah mempersiapkan makan malam untuk nenek kebetulan aku yang sedang belajar memasak sudah sedikit pandai untuk porsinya aku dan nenek.

“wah mira masakanmu sangat enak sama persis seperti ibumu, dia juga pandai memasak dan ahli disegala hal” entah kenapa belakangan ini nenek selalu saja mengingatkanku pada ibu, mungkin ia sedang rindu pada anak sematang wayangnya itu. Seketika tangis nenek pecah air mata yang ia tahankan sejak tadi kini tak dapat ia tahankan benar ia sedang merindukan anak semata wayangnya itu, aku yang terlalu lemah dengan paksaan air mata menangis menjadi-jadi sebab bayi mungilnya yang sampai kini sudah beranjak dewasa tak pernah tahu bagaimana rupanya.

Lihatlah dirimu sayang kau begitu cantik, bayi mungil beberapa tahun lalu kini melebihi aku tingginya kau masih ingat, tangan yang dulu sempat kugenggam kini balik menggenggam tanganku. Jangan cengeng ya, ibu tak suka kau menjatuhkan air mata kau harus kuat dan berani kau bukan lagi anak kecil yang selalu tertawa dengan hal kecil kau juga sudah terlatih menghadapi dunia sendiri, kini kau sudah besar seharusnya kau lebih dewasa menghadapi masalah dunia.

“ibu..... kenapa ibu tega meninggalkanku? Apa ibu tak sayang denganku?”
“kemarilah, banyak yang ingin ibu ceritakan perihal keterpaksaan ibu dan ayah meninggalkanmu” beberapa tahun lalu aku dan ayahmu pergi memenuhi undangan teman lama ayahmu, waktu itu usiamu masih dua bulan tak memungkinkan untuk ikut bersama kami kau ibu titipkan kepada nenekmu dia begitu menyayangimu bahkan melebihi dia menyayangiku. Ditengah perjalanan yang menempuh waktu satu jam lamanya tiba-tiba saja hujan turun sangat deras mungkin semesta sedang marah, kesal pada penumpangnya yang tak tahu berterimakasih hanya pandainya saja meminta. Ibu dan ayah tak melihat ada truk yang terpaksa berhenti karena rusak tak terlalu menepi juga tak terlalu menengah, seketika terjadilah hal yang tak diinginkan kami terpental pandanganku gelap, seketika aku tersadar diruangan serba putih juga dengan orang-orang yang mengenakan seragam putih mereka terlihat kebingungan dan sangat panik dengan keadaanku yang semakin tak membaik suasananya sangat riuh, aku sempat mendengar seseorang yang berteriak memanggil namaku dengan jeritan yang tidak biasa, aku mengenal suara itu dia adalah nenekmu, namun ada yang kusayangkan aku tak bisa meliihatmu disaat-saat terakhir itu, begitu berat beban yang kau tanggung gadis mungilku harus menanggung hal yang tak biasa yang kebanyakan mereka tak mendapatkannya.

Waktu itu aku meminta kepada tuhan jangan ambil suamiku agar kamu tak benar-benar merasakan hidup tanpa orang tua yang sangat kamu butuhkan, tak berselang lama aku juga mendengar suara yang sangat kuhafal itu berteriak untuk yang kedua kalinya dia menangis histeris dia memanggil nama ayahmu, dan aku juga mendengar percakapan seseorang yang mengenakan pakaian serba putih itu bersama ibuku;maaf bu, kami sudah memberikan yang terbaik namun tuhan berkata lain, itu adalah ayahmu, ternyata doaku tak dikabulkan oleh tuhan. Ayahmu telah diambil tuhan sesaat sebelum aku. Tak ada yang bisa kami perbuat semuanya keinginan tuhan entah apa maksud dari semua yang tak kuinginkan ini, namun ku percaya bahwa apa yang telah ditetapkan-NYA akan baik akhirnya. Suatu saat jika kau rindu ibu, berdoalah pada tuhan. kau tahu aku lebih dekat dengan-NYA aku akan membujuk-NYA agar doamu segera diiyakan, pintalah semoga kita dipertemukan kembali.

“bu, aku masih rindu jangan pergi dulu masih banyak yang ingin kuceritkan perihal dunia ini tanpamu, kau tahu sejak aku kecil tangan penuh kelembutan ini tak pernah kurasakan, bahkan untuk melihat rupamu seperti apa aku tak dapat kesempatan, jangan pergi lagi tetaplah bersamaku”
“jangan bersedih sayang ini hanya perihal waktu, takdir semesta tak siapapun bisa merubahnya kita tidak dialam yang sama namun tak sedikitpun merubah hati seorang ibu, kau tetaplah kecintaanku. Selamat tinggal sayang suatu saat jika kita dipertemukan kembali akan kuceritakan perihal lelaki tangguh yang tak kau tahu bagaimana rupanya”

“amira, ayo bangun sudah saatnya pergi kesekolah”

 Insyaallah cerita ini akan berlanjut dan ini saya tuliskan karena kecintaan saya terhadap dunia tulis menulis, tak berharap lebih untuk seorang pelajar menulis yang amatiran.

TERIMAKASIH TELAH MEMBACA
09-FEBRUARI-2019

Rabu, 06 Februari 2019

KATA JANUARI

KATA JANUARI

Namaku ta, ini adalah cerita pendek tentang kisah yang kusebut kita. Walau hanya sebentar namun perih yang kurasa selalu saja menyiksa. Disebabkankan kesalahpahaman yang akhirnya mematahkan.
"halo”
"kamu dimana? dengarkan dulu penjelasanku”
"tidak ada yang perlu kudengarkan”
"aku ke rumah sekarang"
Rumah kita yang tak terlalu jauh hanya butuh beberapa menit untuk aku sampai kerumahmu, kau keluar dengan wajah penuh amarah.
"kamu mau apalagi?
"semua sudah jelas, pergi saja!"
Suara bantingan pintu itu sangat keras

Diah, dia anak dari pamanku, adiknya ibu. Mereka menetap di desa sama seperti aku kecil, sejak nenek meninggalkan ibu memutuskan untuk ikut bersama bapak yang sering keluar kota atas tuntutan pekerjaan. Kami sudah saling mengenal sejak kecil bahkan sudah seperti adik kakak, kau mungkin lupa ini adalah hari libur dan setiap berlibur paman selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi kami. Malam itu ibu menyuruhku menemani diah yang baru saja sampai dari desa, katanya ingin menikmati suasana kota yang ramai, bosen didesa sunyi semacam tidak ada kehidupan.

"ta disini enak ya, gk kayak didesa"
"gk juga, aku sudah terlalu bosan dengan keramaian kota ini, ingin rasanya menetap didesa seperti dulu sewaktu kecil, jika ibu mengizinkan".
"lah kita tukeran aja yuk, didesa sunyi kalau sudah malem begini selain suara dengkuran bapak yang terdengar juga suara kodok kalo lagi hujan, benar-benar memobosankan.

Begitulah kita, manusia selalu saja ingin bertukar dengan menjadi seperti mereka bahkan ingin memiliki apa yang mereka miliki. Syukuri saja apa yang sudah menjadi ketetapan. Wajar saja kadang hidup diiringi rasa bosan tapi aku yakin jika benar kau syukuri semua akan baik, pada masanya. Itu pesan ibu, beliau tak mengizinkanku untuk menetap disana mau jadi apa kamu kalau tinggal didesa cuma bertani, ditambah lagi kamu tidak memiliki kepandaian perihal bertani, tak akan bisa kelak mencukupi kebutuhan keluargamu. Jika kamu sudah berkeluarga.

"siapa wanita itu ta?
"kenapa dia marah-marah?
Seharusnya malam itu kau tak lansung pergi, setidaknya dengarkan sepatah kata dariku agar kesalah fahaman ini tak berujung penyudahan. Berakhirnya kisah ini tak membaikkan keduanya.
"nanti ku jelaskan di rumah, yuk sekarang kita pulang"
Keesokan harinya aku ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi malam itu aku menyambangi rumahmu bersama diah
"kita mau kemana ta?
"temenin aku kerumah wanita yang kemarin dicafe marah-marah".
"dia pacarmu?
"iya, dia salah faham melihat kita berduaan".
"kau tak bilang dulu ingin menemani aku jalan-jalan"?
"kemarin aku tak ada pulsa ingin mengabarinya. Nanti sesampainya disana bantu aku jelasin siapa kamu dan apa yang sebenarnya terjadi"
"ta, kita tungguin sampai kapan? sudah hampir tiga jam kita disini sekarang sudah jam10 nanti ibu marah, tante juga pasti marah, pesannya jangan pulang malem".

Tidak ada siapa-siapa dirumahmu sempat kutanyakan pada tetanggamu namanya pak uwi orang kepercayaan ayahmu jika mereka sedang pergi ayahmu akan meminta tolong pada pak uwi untuk menjaga rumah, pak uwi bilang ayah dan ibumu sedang berkunjung ketempat nenek di luar kota beliau juga sempat melihatmu sedang mengobrol dengan seorang lelaki didepan rumah, beliau tidak kenal pak uwi juga bilang beliau sempat melihatmu pergi bersama lelaki itu.

Diperjalanan pulang aku melihatmu disebuah cafe yang biasa kita kunjungi. Hal yang sering kita bahas menyebabkan pertikaian itu kini benar dimataku, kau bersama mantan kekasihmu. Sial, mengapa mesti terlihat.
"ta, lelaki itu siapa? bukannya itu wanita yang kemarin malam? Pacarmu"
"itu mantan pacarnya, namanya ari teman sekelasnya waktu sekolah

”ta, buka pintunya ibu mau bicara kali ini dengarkan ibu”
Sudahlah jangan terus-terusan begini kamu lelaki jangan karena wanita yang terlalu kau cinta hidupmu kacau, setiap yang patah ada sudahnya, jangan berlebihan apalagi untuk urusan hati dengan manusia yang kebanyakan mengecewakan.
“bu”, kali ini aku benar-benar merasa kalah pada kenyataan, kadang aku merasa semesta tidak adil, mengapa ia menjatuhkan hatiku kepada orang yang tak benar mencintaiku, apa yang kudapatkan tak sepadan dengan apa yang sudah berikan.

“begitulah kehidupan sayang” tak baik berprasangka buruk, semesta itu baik, pada waktunya. Kau tak dicuranginya hanya saja semesta ingin melihat bagaimana caramu menghadapi masalahmu. Pahamilah;mereka yang disinggahkan hanya untuk memberi kita pelajaran bahwasanya benar cinta akan berujung pada setiap kita yang terpatahkan.
Semua yang dimulai juga akan berakhir, lalu mengapa kau terlalu takut akan akhir? Jangan hanya pandai memulai, siapkan juga akan akhir meski semua kita tak pernah menginginkannya. Tapi inilah kenyataan yang harus kau terima disetiap perjalanan akan selalu kembali kejalan pulang.

MEDAN 00:00, 05-januari-2019

KATA FEBRUARI


KATA FEBRUARI

Ini saya bagikan karena benar-benar tersentuh oleh apa yang disampaikan mereka, salah satu alasan saya belajar menulis dan mengabadikan. Sedikit kisah tentang pesan singkat bapak juga tentang seorang bapak pecinta kopi juga sedikit cerita tentang seorang doktor yang memulung. Tentang masa muda mereka juga tentang bagaimana mereka memilih jalan hidupnya.

Ditempat ini disebuah tongkrongan sederhana, tempat saya meluapkan kekesalan pada semesta, lewat pemikiran saya tumpahkan melalui tulisan, hampir setiap malam  setelah siang terlewat dengan lelahnya pemikiran yang selalu saja membuntukan.

Mengapa untuk hidup yang kau rasa salah;harus meluapkan kesal pada semesta seolah ia penyebabnya, serba salah untuk hidup yang kau rasa salah, akan selalu salah jika pikirmu tak berubah, tidak salah, hanya saja kau terlalu lemah.

00:00 sudah seharusnya cafe ini tutup, bapak pemilik cafe tiba-tiba menghampiri, saya yang terlihat asik menulis dengan laptop juga selalu menyendiri disudut cafe mungkin dengan begitu akan lebih fokus pada apa yang ingin saya luapkan, juga agar tak diganggu oleh teman-teman yang selalu mengatakan saya adalah pujangga, dengan begitu juga saya akan lebih bebas menyampaikan apapun perihal kalut lewat tulisan.

Pembicaraan kami dimulai diawali sibapak bercerita perihal masa lalunya, beliau adalah pemilik cafe umurnya kira-kira 50 tahun kurang lebih, maklum saya tidak pernah menanyakannya. Dulunya beliau adalah anak yang rajin dan patuh pada orang tua, ayahnya adalah seorang profesor.

Kurang lebih begini, saya mengambil pendidikan s1 di UNIVERSITAS SUMATERA UTARA di kota MEDAN dengan lulusan terbaik, bangga dong. Saya kira akan bisa mendapatkan banyak uang bermodalkan ijazah juga wawasan, hanya uang yang ada dipikiran saya saat itu. Sempat saya bekerja disuatu perusahaan milik teman ayah saya dan penghasilannya memang berlebih untuk kecukupan anak muda seperti saya, namun nyatanya saya tak pernah puas, benar-benar tak terasa nikmat untuk hidup saya sendiri. Setelah itu saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan s2 di UNIVERSITAS INDONESIA ayah saya adalah seorang profesor tentu beliau ingin anaknya seperti dia. Masa muda saya sudah terlalu banyak dihadapkan dengan pilihan, dan mengapa akhirnya saya memilih untuk bermain dengan kopi-kopi ini, mengapa tak saya pakai ijazah dan ilmu saya dibidangnya bahkan menjadi bos disuatu perusahaan ternama, menjual nama ayah saya. Selesainya pendidikan s2 saya terjun kedunia politik namun benar saya tak pernah merasakan ketenangan, nikmat, juga kecintaan pada apa yang saya lakukan, sempat terpikir ini kehidupan saya mengapa tak saya nikmati dengan apa yang saya cintai saja. Sejak saat itu saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut dan dengan begini saya lebih bahagia dan tak ada yang perlu disesalkan. Keputusan boleh saja salah sebagai pembelaran, juga tak ada yang perlu ditakutkan akan materi jalani saja bila itu menjadikanmu benar dirimu apa adanya. Kenikmatan hidup sebenarnya akan kau temukan bila apa yang menjadi kecintaan tanpa paksaan kau lakukan.

Hidupmu adalah pilihan, dengarkan mereka jika itu baik untukmu, acuhkan mereka jika tak baik untukmu, jangan ragu, bila semua dijalani dengan baik maka baik pula hasilnya. Semesta tidak akan ingkar, apa yang kau dapatkan akan sepadan dengan lakumu, jika kau mendapat lebih itu adalah bonus sebab semesta menyukaimu.

Pernah mendengar seorang doktor lulusan rusia yang menjadi pemulung? Jika tidak saya akan sedikit memberitahu. Saya pernah mendengar itu diacara talkshow dan beliau sebagai bintang tamunya. Saya juga pernah membaca salah satu buku yang ditulis oleh beliau. Namanya soesilo ananta toer adik dari pramoedya ananta toer. Siapa sastrawan yang tidak kenal dengan gelut mereka didunia sastra, keduanya adalah sastrawan luar biasa, usianya kurang lebih 81 tahun dan sampai saat ini beliau masih memilih menjadi pemulung ketimbang menikmati masa tuanya dengan bersantai. Beliau berkata;saya adalah warga negara belanda audiens menatap kebingungan, iya saya adalah warga negara belanda saya lahir tahun 37 dan belanda mengakui indonesia tahun 49 semua yang lahir sebelum tahun 49 adalah warga negara belanda, dibawah kepemerintahan belanda. Sudah banyak tawaran dari pihak belanda tapi saya menolak dan lebih memilih pulang ke indonesia karena saya patuh pada perjanjian ketika saya pergi keluar negeri. Itu semua saya lakukan karena kecintaan pada negara, saya ini terlalu patuh.
Demi hakikat kenikmatan hidup beliau telah memilih hidupnya. Miskin orang bilang, tidak beliau bilang;kamu yang miskin, belajarlah untuk menikmati hidup dengan kecintaanmu pada hidupmu sendiri. Kenalilah diriku karena memulung adalah kenikmatan abadi buatku. Tak ada yang perlu disesalkan, kau tahu apa yang harus kau sesalkan? jika kau hidup dengan penuh paksaan dan sedikit pengalaman, ingin menjadi seperti mereka namun nyatanya dirimu adalah dirimu, hidpumu tak akan mejadi seperti mereka jika kau tak merubahnya, jika hanya dengan pemikiran tanpa perbuatan semua orang akan sukses dan kaya raya.

Dan ini sedikit tentang nasihat bapak

Bapak pernah berpesan didunia yang semakin ingar ini kau harus berani. Bapak adalah pria yang paling sedikit bicara sejak saya mengenal nakal. Jika ia marah, tak sepatah katapun akan keluar, kata ibu ia kesal pada dirinya sendiri;ia telah gagal, ia juga sangat menyesal telah melayangkan tangan. Itu kata beliau kepada ibu. Hingga saya besar, saya rasa kali ini ada yang lebih parah dari marah, ia kecewa. Untuk yang kedua kali ia mengingatkan;hidup harus berani, kamu lelaki, jangan takut pada apapun yang menghalangimu. Jika kau punya mimpi, kejarlah. Tapi mohon jangan tinggalkan apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu. Aku tahu, banyak mereka jadi penghalang namun jangan hiraukan, balas dengan pembuktikan bahwa kau pantas.

Disetiap kita hidup tentu ada kalut yang teramat parah, kadang kau rasa tak sanggup menghadapinya, tentang apapun, karena kita tak sama, berbeda-beda. Jangan mudah menyerah, benar ini hanya permainan kata, namun percayalah terdapat kesungguhan didalamnya.