Senin, 11 Februari 2019

AMIRA DIAH SYAHPUTRI


Amira diah syahputri
”sayang bagaimana persiapan untuk penampilanmu besok?”
“sudah nek, semua sudah  kusiapkan, doakan semoga aku gk malu-maluin ya”
“nenek yakin padamu, ibumu juga dulu sepertimu pandai bercerita juga berpuisi sama sepertimu, jadi untuk hal semacam ini nenek sangat yakin padamu”

Hari ini adalah hari guru dimana pihak sekolah menengah atas itu selalu mengadakan perlombaan pembacaan cerpen juga puisi setiap tahunnya, aku termasuk salah satu siswi yang ditunjuk oleh ibu wali kelas untuk mewakili kelas kami.

“bangun sayang, sudah waktunya kesekolah hari ini nenek akan melihatmu sampai akhir penampilanmu, sana lekas mandi sarapanmu sudah nenek siapin”
Sesampainya disekolah aku dan nenek mendapat tempat duduk yang berjajaran dengan guru-guru juga petinggi sekolah, kebetulan setiap peserta yang tampil akan mendapat tempat duduk didepan bersama orang tuanya yang mendapat undangan, dan setelah beberapa dari mereka tampil tidak lama kemudian namaku dipanggil untuk maju kedepan.

”tuh kamu sudah dipanggil, semangat ya sayang”
“sekarang giliranku, doakan aku ya nek”
Nenek tersenyum memberikan isyarat sepenuhnya bahwa aku bisa, dan saat itu adalah hari dimana pertama kali aku berada ditengah-tengah keramaian mereka yang memperhatikanku untuk bercerita;

Beberapa tahun lalu bayi mungil yang tahunya hanya menangis itu sudah ditimpa musibah yang sangat berat ia tak mengenal yang namanya sosok seorang ibu juga ayah, suaranya, belaian lembut tangannya, kecupan manjanya, juga pelukan hangat yang mampu menenangkan setiap gelisahnya.
Sewaktu usianya semakin bertambah menduduki bangku sekolah dasar disitulah ia baru mengenal sosok seorang ibu dan ayah dari teman-temannya yang sering bercerita membanggakan sosok itu, mereka bilang ibu dan ayahnya adalah pahlawan, setiap harinya mereka selalu ditemani kemanapun perginya bahkan ketika kesekolah mereka selalu diantar dan dijemput. Gadis kecil itu tak bisa bercerita perihal sosok itu, ketika ditanya oleh teman-temannya ia hanya terdiam dan selalu saja menangis sepulangnya kerumah. Gadis kecil itu juga pernah melihat seorang bayi yang sedang menangis tak tahu apa sebabnya sontak terdiam ketika berada dipelukan ibunya. Sungguh luar biasa, berbeda dengan gadis ini ia tak pernah merasakan itu.

Super hero yang sering dikatakan temannya telah tiada semesta mengambilnya sejak lama bahkan sejak ia belum dapat berbicara dan mengingat rupa, gadis kecil itu diasuh oleh neneknya yang semakin menua dan terpaksa harus banting tulang demi kecupukan hidup mereka setelah ditinggal anak satu-satunya, mereka hidup sederhana dengan kecukupan seadanya. Hingga suatu ketika gadis kecil itu bertanya pada neneknya.

“nek, apakah aku tak punya ibu? Ibu kemana? Apakah ibu tak merindukanku? mengapa ibu tak menemui aku? teman-teman selalu saja menanyakan mengapa ibu tak pernah mengantarkanku kesekolah” neneknya menjawab, tuhan telah membawa ibu dan ayahnya karena tuhan sayang mereka, pembicaraan itu berlanjut untuk seorang gadis kecil yang tak tahu apa-apa tentang arti kehilangan juga mereka yang pergi tak pernah kembali, hanya saja rasa ingin tahunya yang tinggi dengan beberapa pertanyaan yang sebenarnya ia tak paham.

“tuhan membawa mereka kemana? apakah tuhan akan mengembalikan ibu dan ayah?”
“sayang, tuhan membawa ibu dan ayahmu kesurga tempat yang paling diidam-idamkan dari semua manusia yang hidup”
“surga itu apa?”
“surga itu sangat indah tempatnya, disana mereka begitu dekat dengan tuhan dan setiap manusia baik kelak tuhan memanaggilnya akan ditempatkan disana”
“kalau begitu aku kesana saja, aku ingin menjumpai ibu dan ayah”
“surga tak ada didunia ini sayang, tak ada dikehidupan kita saat ini”
“jadi ibu dan ayah tak akan pernah menemuiku? Nenek bilang tuhan baik, mengapa tuhan tak baik padaku? Akukan masih kecil, mengapa tuhan mengambil ibu dan ayah?
Begitu polosnya gadis kecil itu, disaat temannya membanggakan sosok ibu dan ayah mereka ia hanya bisa terdiam dan selalu saja menangis, kesedihan yang tak harus dirasakan untuk anak seusianya.

MERINDU YANG TELAH DI SURGA
Ibu...
Ayah...
Apakah kalian tidak merindukanku?
Jumpai aku sesekali walau hanya dalam mimpi
Agar rinduku sedikit terobati
Aku ingin bercerita perihal dunia yang kejam tanpa hadirmu
Kau tahu...
Senyum tulus
Kasih sayang murni
Perjuangan tanpa pamrih seakan tabu didunia ini
Masih banyak lagi yang ingin kuceritakan perihal dunia yang kejam ini tanpa kalian, aku selalu berdoa kepada tuhan agar rindu ini terbalaskan

Itulah masa kecilnya, seorang gadis kecil yang hanya mempunyai nenek dan setelah ia beranjak dewasa ia telah mengenal arti kehilangan juga bagaimana mereka yang pergi tak pernah kembali, sejak saat itu disetiap malamnya selalu saja ia membujuk tuhan agar inginnya dikabulkan.
Tuhan, perkenalkan namaku amira diah syahputri kini aku sudah besar dan sejak aku kecil aku tak pernah merasakan lembutnya tangan seorang ibu dengan penuh kasih sayang juga tak pernah merasakan kasarnya tangan seorang ayah yang telah banting tulang, aku mohon kali ini izinkan aku bertemu dengan mereka banyak yang ingin kuceritakan perihal duniamu yang kejam tanpa mereka. Tuhan, kini aku sudah mengerti arti kesedihan sebab kehilangan aku juga sudah mengerti arti tangisan sebab mereka yang pergi tak kembali, aku mohon pertemukan kami walau hanya dalam mimpi.

Pertunjukan diakhiri dengan suara tepuk tangan sebagai penghargaan yang baru pernah kudapatkan sebuah kebanggaan tersendiri, dari atas pentas aku melihat nenek dengan mata berbinar-binar ia sedang berusaha tegar menghapus air mata yang terus saja memaksa ingin keluar, begitulah nenek ia tak pernah ingin menunjukkan tangis padaku beliau berkata aku tak ingin memberi contoh yang tidak baik padamu, kamu jangan pernah menangis sebab menangis itu hanya untuk wanita yang lemah, kamu harus kuat meski semesta kadang tak adil. Sepulangnya dari pertunjukan sekolah aku telah mempersiapkan makan malam untuk nenek kebetulan aku yang sedang belajar memasak sudah sedikit pandai untuk porsinya aku dan nenek.

“wah mira masakanmu sangat enak sama persis seperti ibumu, dia juga pandai memasak dan ahli disegala hal” entah kenapa belakangan ini nenek selalu saja mengingatkanku pada ibu, mungkin ia sedang rindu pada anak sematang wayangnya itu. Seketika tangis nenek pecah air mata yang ia tahankan sejak tadi kini tak dapat ia tahankan benar ia sedang merindukan anak semata wayangnya itu, aku yang terlalu lemah dengan paksaan air mata menangis menjadi-jadi sebab bayi mungilnya yang sampai kini sudah beranjak dewasa tak pernah tahu bagaimana rupanya.

Lihatlah dirimu sayang kau begitu cantik, bayi mungil beberapa tahun lalu kini melebihi aku tingginya kau masih ingat, tangan yang dulu sempat kugenggam kini balik menggenggam tanganku. Jangan cengeng ya, ibu tak suka kau menjatuhkan air mata kau harus kuat dan berani kau bukan lagi anak kecil yang selalu tertawa dengan hal kecil kau juga sudah terlatih menghadapi dunia sendiri, kini kau sudah besar seharusnya kau lebih dewasa menghadapi masalah dunia.

“ibu..... kenapa ibu tega meninggalkanku? Apa ibu tak sayang denganku?”
“kemarilah, banyak yang ingin ibu ceritakan perihal keterpaksaan ibu dan ayah meninggalkanmu” beberapa tahun lalu aku dan ayahmu pergi memenuhi undangan teman lama ayahmu, waktu itu usiamu masih dua bulan tak memungkinkan untuk ikut bersama kami kau ibu titipkan kepada nenekmu dia begitu menyayangimu bahkan melebihi dia menyayangiku. Ditengah perjalanan yang menempuh waktu satu jam lamanya tiba-tiba saja hujan turun sangat deras mungkin semesta sedang marah, kesal pada penumpangnya yang tak tahu berterimakasih hanya pandainya saja meminta. Ibu dan ayah tak melihat ada truk yang terpaksa berhenti karena rusak tak terlalu menepi juga tak terlalu menengah, seketika terjadilah hal yang tak diinginkan kami terpental pandanganku gelap, seketika aku tersadar diruangan serba putih juga dengan orang-orang yang mengenakan seragam putih mereka terlihat kebingungan dan sangat panik dengan keadaanku yang semakin tak membaik suasananya sangat riuh, aku sempat mendengar seseorang yang berteriak memanggil namaku dengan jeritan yang tidak biasa, aku mengenal suara itu dia adalah nenekmu, namun ada yang kusayangkan aku tak bisa meliihatmu disaat-saat terakhir itu, begitu berat beban yang kau tanggung gadis mungilku harus menanggung hal yang tak biasa yang kebanyakan mereka tak mendapatkannya.

Waktu itu aku meminta kepada tuhan jangan ambil suamiku agar kamu tak benar-benar merasakan hidup tanpa orang tua yang sangat kamu butuhkan, tak berselang lama aku juga mendengar suara yang sangat kuhafal itu berteriak untuk yang kedua kalinya dia menangis histeris dia memanggil nama ayahmu, dan aku juga mendengar percakapan seseorang yang mengenakan pakaian serba putih itu bersama ibuku;maaf bu, kami sudah memberikan yang terbaik namun tuhan berkata lain, itu adalah ayahmu, ternyata doaku tak dikabulkan oleh tuhan. Ayahmu telah diambil tuhan sesaat sebelum aku. Tak ada yang bisa kami perbuat semuanya keinginan tuhan entah apa maksud dari semua yang tak kuinginkan ini, namun ku percaya bahwa apa yang telah ditetapkan-NYA akan baik akhirnya. Suatu saat jika kau rindu ibu, berdoalah pada tuhan. kau tahu aku lebih dekat dengan-NYA aku akan membujuk-NYA agar doamu segera diiyakan, pintalah semoga kita dipertemukan kembali.

“bu, aku masih rindu jangan pergi dulu masih banyak yang ingin kuceritkan perihal dunia ini tanpamu, kau tahu sejak aku kecil tangan penuh kelembutan ini tak pernah kurasakan, bahkan untuk melihat rupamu seperti apa aku tak dapat kesempatan, jangan pergi lagi tetaplah bersamaku”
“jangan bersedih sayang ini hanya perihal waktu, takdir semesta tak siapapun bisa merubahnya kita tidak dialam yang sama namun tak sedikitpun merubah hati seorang ibu, kau tetaplah kecintaanku. Selamat tinggal sayang suatu saat jika kita dipertemukan kembali akan kuceritakan perihal lelaki tangguh yang tak kau tahu bagaimana rupanya”

“amira, ayo bangun sudah saatnya pergi kesekolah”

 Insyaallah cerita ini akan berlanjut dan ini saya tuliskan karena kecintaan saya terhadap dunia tulis menulis, tak berharap lebih untuk seorang pelajar menulis yang amatiran.

TERIMAKASIH TELAH MEMBACA
09-FEBRUARI-2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar